Kabid Pemberantasan Korupsi Topan RI DPD Bengkulu Selatan, Aseptori
BENGKULU SELATAN – Sistem parkir otomatis yang diterapkan di Rumah Sakit As Syifa Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan, menjadi sorotan masyarakat. Sejumlah keluarga pasien mengaku keberatan dengan besaran tarif parkir kendaraan roda empat yang dinilai terlalu tinggi. Dalam beberapa kasus, pengunjung harus membayar hingga Rp15 ribu meski hanya memarkirkan kendaraan selama beberapa jam di area rumah sakit.
Keluhan tersebut datang dari keluarga pasien yang setiap hari mendampingi anggota keluarganya menjalani perawatan. Aktivitas keluar masuk rumah sakit untuk membeli obat, makanan, maupun keperluan lainnya membuat biaya parkir terus bertambah. Kondisi itu dinilai menjadi pengeluaran tambahan yang cukup membebani, terutama ketika keluarga juga harus menanggung berbagai kebutuhan selama proses pengobatan.

Salah seorang keluarga pasien, Nata (28), mengaku terkejut saat mengetahui besaran biaya parkir yang harus dibayarkan ketika hendak meninggalkan lokasi rumah sakit. Menurutnya, penggunaan kendaraan pribadi bukan karena keinginan, melainkan demi memudahkan mobilitas selama menjaga anggota keluarga yang sedang dirawat.
“Kami datang ke rumah sakit untuk menjaga keluarga yang sedang sakit, bukan untuk berlama-lama di tempat parkir. Tapi saat keluar, biaya parkir yang harus dibayar mencapai Rp15 ribu. Bagi sebagian orang mungkin terlihat kecil, tetapi kalau harus keluar masuk setiap hari tentu cukup memberatkan,” ujar Nata.
Ia berharap kebijakan tarif parkir dapat dievaluasi agar tidak semakin membebani keluarga pasien. Menurutnya, rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan sehingga setiap kebijakan yang diterapkan semestinya juga mempertimbangkan kondisi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
“Harapan kami sederhana, tarif parkir bisa ditinjau kembali supaya lebih ringan. Apalagi banyak keluarga pasien yang harus menjaga berhari-hari. Jangan sampai biaya parkir justru menjadi beban tambahan di luar biaya pengobatan,” tambahnya.
Selain mempersoalkan tarif, masyarakat juga mengeluhkan kinerja sistem parkir otomatis yang dinilai belum berjalan optimal. Berdasarkan pengakuan sejumlah pengunjung, mesin parkir beberapa kali mengalami gangguan sehingga proses pembayaran menjadi lebih lama. Tidak jarang kondisi tersebut menyebabkan antrean kendaraan di pintu keluar karena sistem tidak dapat memproses tiket secara normal.
Menurut warga, persoalan tersebut perlu menjadi perhatian serius. Sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, rumah sakit seharusnya memberikan kemudahan kepada masyarakat, termasuk dalam pelayanan parkir. Gangguan pada sistem dinilai dapat menghambat mobilitas pengunjung, terutama bagi keluarga pasien yang membutuhkan akses cepat keluar masuk rumah sakit.
Saat dikonfirmasi mengenai besaran tarif yang dikenakan, petugas parkir menjelaskan bahwa seluruh biaya dihitung secara otomatis oleh sistem. Petugas menyebut tidak memiliki kewenangan untuk mengubah ataupun mengurangi nominal yang muncul karena seluruh proses pembayaran telah diatur oleh mesin parkir.
Meski demikian, penjelasan tersebut belum mampu meredakan keresahan masyarakat. Warga berharap pengelola tidak hanya mengandalkan sistem otomatis, tetapi juga melakukan evaluasi apabila dalam pelaksanaannya muncul banyak keluhan dari pengguna jasa parkir.
Sorotan terhadap persoalan ini juga datang dari Kabid Pemberantasan Korupsi Topan RI DPD Bengkulu Selatan, Aseptori. Menurutnya, keluhan masyarakat terkait tarif parkir maupun gangguan sistem harus segera ditindaklanjuti agar tidak terus berulang.
“Kami sangat menyayangkan jika masyarakat yang sedang mendampingi keluarganya berobat justru dibebani persoalan lain seperti tarif parkir yang dianggap tinggi maupun mesin yang sering bermasalah. Keluhan ini harus segera ditindaklanjuti oleh pihak yang bertanggung jawab,” tegas Aseptori.
Ia meminta dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sistem parkir, baik terkait mekanisme penentuan tarif maupun kondisi mesin yang kerap mengalami gangguan. Dengan begitu, pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih baik serta memberikan rasa nyaman bagi pengunjung rumah sakit.
Sementara itu, Satuan Pengawas Internal (SPI) Rumah Sakit As Syifa Manna, dr. H. Andanu Sulaksana, MARS, menegaskan bahwa pengelolaan parkir khusus kendaraan roda empat bukan berada di bawah kewenangan rumah sakit. Ia menjelaskan, area parkir mobil tersebut dikelola oleh pihak ketiga yang menyewa lahan milik pribadi.
“Maaf pak, kalau parkir itu yang mengelola PT Joker Prima Star Bengkulu. Mereka sewa lahan pribadi untuk parkir mobil, bukan lahan rumah sakit,” ungkapnya saat dihubungi.
Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa operasional parkir mobil berada di bawah pengelolaan PT Joker Prima Star Bengkulu, bukan manajemen Rumah Sakit As Syifa Manna. Meski demikian, masyarakat tetap berharap adanya koordinasi antara seluruh pihak terkait agar berbagai keluhan mengenai tarif maupun keandalan sistem parkir dapat segera dievaluasi. Harapan tersebut muncul karena sebagian besar pengguna fasilitas parkir merupakan keluarga pasien yang tengah menghadapi situasi sulit, sehingga pelayanan yang cepat, nyaman, dan tidak menambah beban ekonomi menjadi kebutuhan yang sangat diharapkan. (C4k)
